Powered By Blogger

Minggu, 01 Oktober 2017

ABU,MADU DAN TALI
Diceritakan pada zaman dahulu kala Ada seorang laki-lqki Ahli Ibadah yg mendapatkan kelebihan dari اَللّهُ, mampu melihat Iblis yg sedang membawa Abu, Madu dan Tali.
Kemudian Ia lalu bertanya pada Iblis, "Apa yg akan kau lakukan dengan debu tersebut ?" "Aku akan meletakkannya di mata anak² yatim agar masyarakat memandang jijik, rendah dan membenci mereka, sehingga mereka tidak memperoleh berkah dan pahala mengurus anak yatim !", jawab Iblis.
"Lalu apa yg akan kau lakukan dengan madu itu ?", tanya orang sholeh itu. Maka iblis menjawab: "Akan kuletakkan di bibir orang-orang yang sedang bergunjing/menggibah agar ghibah terasa manis di mulut mereka !"
"Lalu apa gunanya tali itu ?", tanya orang sholeh lagi. "Tali ini untuk orang-orang yan keluar dari rumah menuju Masjid atau Majlis ilmu dengan semangat yg dapat menyampaikan mereka kepada اَللّهُ, dan dalam hati mereka hanya ada ketaatan. AKU TAK MAMPU MENDEKATI APALAGI MENGGANGGU MEREKA, maka kutunggu mereka di depan pintu. Jika sekali waktu mereka keluar dari tempat tersebut untuk kembali mengurusi URUSAN KEDUNIAAN, kukalungkan tali ini ke leher mereka dan kutuntun mereka SEKEHENDAKKU !"

(Dinukil dari kitab "Tuhfah Al-Asyrof", Sayyidinal Imam Al-'Allamah, Sayyid Muhammad bin Hadi As-Seggaf رضي الله عنـه)
KUTIPAN PEMBACAAN KITAB NASOHIDINIYAH
Image result for zdikir
Berkata Imam Hujatul Islam Al-Gozali RA: zikir itu terbagi atas 4 tingkatan
1.) Zikir dengan menggunakan lisan saja
2.) Zikir dengan Hati & lisan berbarengan secara dipaksakan
3.) Zikir dengan hati & menghadirkannya dalam hati bersama lisan tanpa harus dipaksakan
4.) Zikir yang telah menguasai hati dan hati pun tenggelam dalam berzikir Tingkatan pertama (Zikir dengan menggunakan lisan saja) sedikit manfaatnya & pengaruhnya
Dan tidak diragukan lagi bahwa zikir dengan lisan disertai hati yang lalai itu sedikit faidah & manfaatnya, Akan tetapi hal tersebut masih bagus dibandingkan meninggalkan zikir sama sekali Hingga ditanyakan kepada seorang arifbillah: "Sungguh kita telah berzikir kepada Allah tetapi kita tidak mendapatkan kehadiran (zikir tsb) didalam hati?" Maka dijawab: "Bersyukurlah kepada Allah yang telah menghiasi (Lisan kalian) satu anggota tubuh kalian dengan bisa menyebutNya."
Maka hendaklah bagi yang berzikir dengan menggunakan lisan nya agar dia memaksakan juga untuk menghadirkan zikir tersebut didalam hatinya. Hingga akhirnya orang tersebut berzikir dengan lisan & hatinya secara dipaksakan dipermulaannya. Kemudian senantiasa melazimi (zikir lisan & hati) secara terus menerus sampai hatinya merasakan kelezatan zikir & memancar cahaya-cahaya zikirnya didalam hatinya.
Maka diwaktu itulah hatinya akan ikut hadir dengan zikirnya tanpa kesulitan harus susah payah dipaksakan. Bahkan bisa jadi keadaannya telah menjadi & mencapai kepada suatu keadaan dimana tidak sanggup bersabar untuk berzikir dan tidak mampu lalai dari zikir.
والله اعلم

Senin, 23 Mei 2016

"KAMUKAH JODOHKU" ?????

Ya Allah,,Ya Rabbi...
Wahai Dzat Yang Menguasai Setiap Hati
Jika memang dia bukan bagian dari tulang rusuk hamba
Bantu hamba agar dia tidak masuk ke dalam pikiran dan hati hamba
Tundukkanlah pesonanya dari pelupuk mata hamba
Gantilah kerinduan dan keinginan yang membelenggu ini dengan kasih sayangMu yang murni dan meliputi semua makna dalam Ar Rahim-Mu
Bantu hamba agar dapat mengasihinya sebagai saudara seiman yang diikat tali ukhuwah

Tetapi...

Jika Engkau memang menciptakannya buat hamba
tolong
Satukan hati kami
Bantu hamba untuk mencintainya tanpa melebihi cinta hamba kepada-Mu, Rasul Mulia-Mu dan Jihad di Jalan-Mu
Anugerahkan hamba kesabaran, niat tulus dan kebulatan tekad
untuk memenangkan hatinya,
Selimuti juga dirinya dengan kasih sayang-Mu yang Maha Luas
Agar mampu mengerti dan menerima hamba apa adanya...
Belajar saling melengkapi kekurangan, dan bertahan dalam kebaikan
Tumbuhkan keyakinan bahwa kami ikhlas berbagi suka dan duka
Semata dalam bingkai harapan akan Ridho-Mu
Ajari hamba agar makin dekat kepada cinta-Mu
Tuntun langkah hamba menuju cahaya-Mu yang Abadi
Ajarkan hamba kesabaran dan kesetian kepada syariat-Mu
Selama masa penantian ini
sampai saat yang Engkau tetapkan tiba waktunya...

Ya Rabb,
Kabulkan doa hamba...
Aamiin…Allahumma Amiin...

Sabtu, 21 Mei 2016

SHOLAWAT ASNAWIYYAH


Sholawat Asnawiyyah adalah Sholawat Karangan dari KH R. Asnawi dari Kudus yang merupakan Waliyullah dan Ulama’ Besar Indonesia pada Tahun 1900an. Beliau dimakamkan di Komplek Pemakaman Wali di Makam Menara Kudus. Sholawat ini diciptakan beliau karena beliau ingin berdo’a dan bermunajah kepada Allah, agar bangsa Indonesia diberi keamanan, dan diselamatkan dari penjajahan, serta diberi cahaya Quran dan yang hatinya sedang gelap, diterangi oleh Cahaya Qur’an dan ditetapkan Imannya. Sholawat Asnawiyyah ini juga dikenal sebagai Lagu/Sholawat Wajib di Madrasah Qudsiyyah – Kauman Menara Kudus Jawa Tengah.


Suluk Ya Mustami’un (Pembuka Sholawat Asnawiyyah)

إخوان يا مستمعون عرفنا الا شيئا کاملا إلا بهداية الله وتوفيقه فضلا منه وجودا
ألحمد لله فی الأولی فی الأخرة ولعل الله أن ينفعنابها إن شاء الله
احن إلی شفيعی فی راض شمس الضحی قرم الوجود بمحمد بدر التمام إلی العلا والگون أشرق من ديار محمد
تعالی الله جل جلاله قد مر الدنيا بنور محمد
بجاه المصطفی زال الجفا ولقی المصطفی وعيش الوری بمحمد
غن الفقرآء مديح المصطفی  يافوز من يحلومادحا محمد

Teks bacaan Sholawat Asnawiyyah
يا رب صل علی الرسول محمد سر العلا Yâ Robbi sholli ‘alâr-Rosûli Muhammadin sirril ‘ulâ
والأنبياء والمرسلين الغر ختما أولا Wal anbiyâ-i wal mursalînal ghurri khotman awwalâ
يا رب نور قلوبنا بنور قرآن جلا Yâ Robbi nawwir qolbanâ bi nûri Qur-ânin jalâ
وافتح لنا بدرس أو قراءة ترتلا Waftah lanâ bidarsin au qirô-atin turottalâ
وارزق بفهم الأنبياء لنا وأي من تلا Warzuq bifahmil anbiyâ, lanâ wa ayya man talâ
ثبت به إيماننا دنيا وأخری گاملا Tsabbit bihi îmânanâ dunyâ wa ukhrô kâmilâ
أمان أمان أمان أمان  بإندونسيا رايا أمان Amân amân amân amân bi Indûnisiyâ Rôyâ amân
أمين آمين آمين آمين يارب يارب العالمين Âmîn âmîn âmîn âmîn Yâ Robb Yâ Robbal ‘âlamîn
آمين آمين آمين آمين ويا مجيب السائلين Âmîn âmîn âmîn âmîn wa Yâ mujîbas-sâ-ilîn

Suluk Asma Allah (Penutup Sholawat Asnawiyyah)
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺍﺧﻴﺮ ﻳﺎ ﻭﺩﻭﺩ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻇﺎﻫﺮ ﻳﺎ ﻣﺎﺟﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺑﺎﻃﻦ ﻳﺎ ﺷﻬﻴﺪ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺣﻖّ ﻭﻳﺎ ﻭﻛﻴﻞ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺣﻲّ ﻭﻳﺎ ﻗﻴّﻮﻡ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺑﺮّ ﻭﻳﺎ ﺗﻮّﺍﺏ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻣﺘﻌﺎﻟﻰ ﻳﺎ ﻭﺍﻟﻰ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻣﻨﺘﻘﻢ يا ﺣﻤﻴﺪ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻋﻔﻮّ ﻳﺎ ﻣﻌﻴْﺪ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻣﻘﺴﻂ ﻳﺎ ﺑﺪﻳْﻊ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺟﻤﻴْﻊ ﻳﺎ ﺭﺷﻴْﺪ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻏﻨﻲّ ﻳﺎ ﻣﻐﻨﻲّ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻧﺎﻓﻊ ﻭﻳﺎ ﻇﺎﺭّ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻣﺎﻧﻊ ﻭﻳﺎ ﻧﻮْﺭ
ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﻭﺍﺭﺙ ﻭﻳﺎ ﻫﺎﺩﻯ ¤ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎ ﺻﺒﻮﺭ ﻭﻳﺎ ﺑﺎﻗﻰْ
ﻣﻠﻚ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺫﺍﺍﻟﺠﻼﻝ ﻭﺍﻹﻛﺮﺍﻡ
####
Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan

Rabu, 18 Mei 2016

KAROMAH “Si Linggis” dari Desa Cidahu TASIKMALAYA


Ada seorang wali besar di Tanah Jawa. Sejak muda ia sudah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya yang sangat tajam setiap kali mengkaji ilmu-ilmu agama dengan pendekatan tasawuf.
Di Desa Cidahu, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada akhir abad ke-19, tepatnya tahun 1884, lahirlah seorang jabang bayi yang kelak menjadi ulama besar. Orangtuanya memberinya nama Abdul Fatah. Sejak muda ia sudah tertarik pada kehidupan rohaniah dengan menimba ilmu tarekat pada K.H. Sudja’i, guru mursyid Tarekat Tijaniyah, selama tujuh tahun sejak 1903.
Selama menjadi santri, Abdul Fatah terkenal dengan sebutan “Si Linggis”, karena analisisnya terhadap berbagai ilmu agama yang sangat tajam. Terutama ketika ia menganalisis dengan menggunakan ilmu nahu dan saraf dengan pendekatan tasawuf. Ia suka belajar dengan membaca berbagai kitab, sehingga beberapa pelajaran yang belum sempat disampaikan oleh gurunya sudah ia kuasai.
Suatu hari, ia membaca ayat 17 surah Al-Kahfi, “Barang siapa diberi hidayah oleh Allah, dia termasuk orang yang diberi petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, dia sekali-sekali tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid.” Ia lalu bertanya kepada Kiai Sudja’i, “Siapakah wali mursyid yang dimaksud dalam ayat ini?” Kiai Sudja’i menjelaskan perihal wali mursyid sebagai guru tarekat, sementara mencari wali mursyid merupakan keharusan. Tapi, karena Kiai Sudja’i mengaku bukan wali mursyid, Abdul Fatah disarankan untuk mencari wali mursyidnya.
Maka berangkatlah Abdul Fatah mencari wali mursyid dengan mengunjungi para ulama di Jawa dan Sumatra. Karena belum menemukan, ia lalu mencarinya ke Timur Tengah, khususnya Mekah. Maka pada 1922 ia pun berangkatlah, dengan membawa seluruh anggota keluarganya. Sampai di Singapura, kapal yang mereka tumpangi rusak. Terpaksalah ia bermukim di Negeri Singa itu. Ia tinggal di Kampung Watu Lima, kemudian di Kampung Gelang Serai, selama lima tahun. Di sanalah ia, suatu hari, bertemu Syekh Abdul Alim Ash-Shiddiqy dan Syekh Abdullah Dagistani, yang mengajarkan Tarekat Sanusiyah.
Pada 1928, setelah memulangkan keluarganya ke Tasikmalaya, ia berangkat ke Mekah bersama beberapa jemaah haji Indonesia, seperti K.H. Toha dari Pesantren Cintawana, Tasikmalaya, dan K.H. Sanusi dari Pesantren Syamsul Ulum, Gunungpuyuh, Sukabumi (lihat Alkisah edisi 17/III/2005, Khazanah). Selama di Mekah, Abdul Fatah bergabung dengan Zawiyah Sanusiyyah di Jabal Qubais, mengaji kepada Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi selama lima tahun.
Karena sangat alim, belakangan Abdul Fatah mendapat kepercayaan membaiat atau menalkin murid tarekat yang baru masuk. Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif, ia sempat mengalami berbagai ujian. Suatu hari, ketika tengah mengajar, Syekh Ahmad Syarif mengamuk dalam majelisnya. Apa saja yang ada di dekatnya dilempar ke arah murid-muridnya. Semua muridnya lari berhamburan karena takut. Namun, ada seorang murid yang bergeming, tetap diam di tempat. Dialah Abdul Fatah.
Kursi Istimewa
Sebagai guru mursyid tarekat, Syekh Ahmad Syarif biasa duduk di kursi istimewa, dan tak seorang pun berani mendudukinya. Mengapa? Sebab, siapa yang berani mendudukinya, badannya akan hangus. Suatu hari Syekh Ahmad memerintahkan Abdul Fatah untuk menggantikannya mengajar. Maka dengan tenang Abdul Fatah duduk di kursi istimewa itu, tanpa ada kejadian apa pun yang mencelakakannya.
Akhirnya, pada suatu hari, Syekh Ahmad Syarif memanggilnya. Ia menceritakan, semalam Rasulullah SAW memerintahkan untuk melimpahkan kekhalifahan Tarekat Sanusiyah kepada Abdul Fatah Al-Jawi untuk dikembangkan di negerinya. Sejak itu Abdul Fatah mendapat gelar Syekh Akbar Abdul Fatah. Setelah itu, lebih kurang dua tahun kemudian, Syekh Ahmad Syarif As-Sanusi pun wafat.
Pada 1930, Syekh Akbar Abdul Fatah pulang kampung dengan membawa ajaran Tarekat Sanusiyah, yang di kemudian hari berganti nama menjadi Tarekat Idrisiyah karena tiga alasan. Pertama, untuk berlindung dari tekanan politik kaum kolonialis Belanda. Kedua, kandungan ajaran kedua aliran itu sama, karena Idrisiyah juga merupakan anak Tarekat Sanusiyah, yang sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad bin Idris. Ketiga, untuk mendapatkan berkah Syekh Ahmad bin Idris atas keistimewaan lafaz zikirnya yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan NabiKhidlir, yaitu Fi kulli lamhatin wa nafasin ‘adada ma wasi’ahu ‘ilmullah ....
Di Cidahu, Syekh Akbar Abdul Fatah menghadapi berbagai tantangan, baik dari penjajah Belanda maupun para jawara. Namun semua itu ia hadapi tanpa takut sedikit pun. Tiga tahun kemudian ia mulai mendirikan beberapa zawiah di beberapa tempat, terutama di Jawa Barat, masing-masing dilengkapi dengan sebuah masjid, Al-Fatah. Pada 1930, ia sempat berdakwah sampai ke Batavia, singgah di Masjid Kebon Jeruk, kini di kawasan Jakarta Kota. Ia juga sempat mengembangkan tarekat di Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Suatu hari ia mengembangkan tarekat di Masjid Al-Falah di Batutulis, kini di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Di sana ia juga harus menaklukkan para jawara. Dan sejak itu syiar dakwah Islam terus berkembang. Banyak muridnya yang kemudian mewakafkan tanah untuk digunakan sebagai zawiah. Ia juga membangun sebuah asrama untuk tempat tinggal para santri dari jauh. Di tengah kesibukannya mengajar di Batavia, dua minggu sekali ia menyempatkan diri mengajar di kampung halamannya.
Pada 1940, karena pesantrennya di Cidahu sudah tidak bisa menampung jemaah, ia lalu memindahkannya ke Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya.
Sebagai wali, Syekh Akbar Abdul Fatah memiliki banyak karamah. Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah (Yang didirikan KH Hasyim asy'ari pendiri NU), yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Namun, bom-bom itu tidak meledak. Apa pasal? Karena Syekh Akbar Abdul Fatah telah membekali para santrinya dengan air yang telah didoainya. “Air doa” sang wali inilah yang, atas izin Allah SWT, menangkal bom-bom penjajah kafir tersebut.
Perampok Arab
Suatu hari seorang nelayan terdampar sampai ke pantai Australia. Ia kemudian berdoa, “Ya Allah, mengapa Engkau asingkan aku yang lemah ini di sini? Padahal, aku hanya bermaksud mencari nafkah buat anak-istriku. Ya Allah, datangkanlah penolong.” Ketika itulah ia melihat seorang ulama bertubuh tinggi besar berpakaian serba putih. Tiba-tiba ia memindahkan perahu nelayan itu ke tempat asalnya. Setelah selamat, nelayan itu menawarkan ikan besar yang baru saja ditangkapnya kepada ulama penolongnya itu.
Dengan tersenyum, ulama tersebut berkata, “Aku tidak membutuhkan ikan itu. Jika engkau ingin menjumpaiku dan menjadi muridku, datanglah ke Pagendingan, Tasikmalaya.” Setelah itu ulama tinggi bear itu pun lenyap dari pandangan mata. Selang beberapa minggu kemudian, nelayan itu datang ke Pesantren Pagendingan. Di sana ia bertemu seorang ulama yang fisik dan gerak-geriknya persis seperti yang ia lihat di pantai Australia. Ia tiada lain adalah Syekh Akbar Abdul Fatah.
Karamah yang lain terjadi ketika Syekh Akbar Abdul Fatah berada di Mekah. Suatu hari ia ingin berziarah ke makam Rasulullah SAW di Medinah. Membawa bekal secukupnya, bersama beberapa kiai dari Jawa, ia berjalan kaki menuju Medinah. Di tengah perjalanan, rombongan itu dihadang perampok bersenjata lengkap. Rombongan peziarah itu terkepung oleh perampok yang mengendarai kuda dengan menghunus pedang. Syekh Akbar lalu memerintahkan rombongannya melepaskan apa saja yang ada di tangannya ke kanan dan kiri, sebagai kepasrahan seorang hamba yang lemah tak berdaya.
Sambil melepaskan apa yang dimiliki, Syekh Akbar berteriak dengan suara lantang, ”Ash-shalatu was salamu ‘alaika ya Rasulallah! Qad Dhaqat hilati, adrikni ya Rasulallah!” (Selawat dan salam serajahtera atas Tuan, wahai Rasulullah! Mohon lenyapkan rintangan jalan kami menuju engkau, wahai Rasulullah!). Ajaib! Kontan para perampok itu berteriak-teriak kesakitan sambil memegang leher mereka, “Ampun ya Syekh Jawa, ampun ya Syekh Jawa! Panas, panas!”
Pemimpin perampok itu lalu minta maaf, mohon dibebaskan dari siksaan. Maka Syekh Akbar pun mendekati dan menepuk pundak para perampok itu satu per satu. Barulah rasa sakit karena panas tak terkirakan di tenggorokan itu reda. Seketika itu pemimpin perampok menyatakan bertobat, dan bersedia mengantarkan rombongan ke mana saja. “Kalian adalah bangsa Arab yang berdekatan dengan kampung Rasulullah SAW, sedangkan kami datang dari negeri yang sangat jauh – tapi demi berziarah kepada Rasulullah SAW. Tidakkah kalian malu melakukan hal yang tidak terpuji ini? Sudah sepantasnya kalian lebih berbangga daripada kami, karena negeri kalian dikunjungi banyak orang dari seluruh pelosok negeri.”
Syekh Akbar Abdul Fatah wafat pada 1947 dalam usia 63 tahun, dimakamkan dalam kompleks Pesantren Al-Fathiyah al-Idrisiyah, Jalan Raya Ciawi Km 8, Kampung Pagendingan, Kecamatan Cisanyong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sejak itu pemimpin Tarekat Idrisiyah diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pada 11 September 2001 Syekh Dahlan wafat, dan tongkat kepemimpinan tarekat diserahkan kepada Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan.
Baca Kisah Karomah Para Wali Lainnya hanya di :
Kumpulan Karomah Syaikh Abdul Qodir Jailani Ra
Dan
Habib Gus Dur Wali Ke-10

Senin, 16 Mei 2016

CERITA NENEK PEMUNGUT DAUN YANG MENGHARAP SYAFA'AT ROSULULLOH SAW



Di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh saw.

SEMOGA ADA BERKAHNYA/.,.,.,,.,.,AAAAmminnn

MEMAHAMI 'TURI-TURI PUTIH' ciptaan Kanjeng Sunan Kali Jaga



Turi-turi putih
                Tak tandur ning kebun agung
                Seleret tiba nyemplung
                Mbok ira kembange opo.
INI  tembang Jawa kuno, yang dulu kerap ditembangkan oleh bocah-bocah yang bermain di halaman tatkala rembulan lagi bundar-bundarnya. Biasa ditembangkan bocah angon yang tengah menjaga kambingnya, atau anak sekolah ketika diminta gurunya untuk tampil di depan kelas. Kini tembang itu tidak lagi berkumandang. Anak-anak sekarang sebagian malah tak mengenalnya lagi.  Padahal betapa tingginya makna yang terkandung dalam Turi-turi putih. Betapa dalam ajaran yang berada dalam larik-larik tembang itu.
                Tembang itu dibuka dengan kata turi. Menurut Ki Sudrun, personel kelompok musik Kiai Kanjeng Yogyakarta, turi adalah bunga dari pohon turi. Bunga atau kembang. Tembang ini segera mengajak kita merenung: adakah yang lebih indah dari kembang? Kembang adalah perlambang keindahan, kerendahhatian, apik, dan tepat. Manusia semestinya mengikuti laku kembang, harus selalu berupaya untuk menjadi kembang, harus senantiasa berproses dan bertumbuh kembang. Tidak boleh statis supaya tidak sama kodratnya dengan batu, bangku, atau benda mati lainnya.
                Manusia kembang adalah manusia yang manfaat. Setiap pribadi perlu  berproses menjadi kembang-kembang: bagi dirinya dan  lingkungannya. Berproses, ibarat melewati godogan dalam kuali, berproses untuk matang dan menjadi sesuatu. Proses ini panjang dan berat. Sayangnya orang sekarang kerap tidak mau melewati proses, maunya langsung enak, instan.
                Tembang kita ini mengajak kita menjadi kembang turi. Menjadi kembang saja sudah indah, apalagi menjadi turi-turi putih. Kembang kesucian. Putih adalah nurani. Dalam semua warna pada hakikatnya ada unsur putihnya. Putih menuju kesempurnaan dan kesucian. Suci angan-angan berarti menjaga kesucian pikiran dari rusuh dan selingkuh. Suci kaki berarti tidak menendang orang. Suci tangan bermakna tidak memukul liyan, suci dalam arti agama berarti wudhu atau toharoh.
                Begitulah, dari Turi-turi Putih kita telah dapatkan ajaran mulia untuk selalu berproses menjadi kembang, menjadi sosok yang tepat, indah, dan manfaat. Terus mencoba menjadi turi-turi yang suci.
                Larik berikutnya adalah tak tandur ning kebun agung. Saya tanam di kebun agung. Apa kebung agung? Kebun agung bukan sekadar bumi yang datar tempat berkebun. Di sini, dalam tembang yang konon digubah oleh Kanjeng Sunan Kalijogo ini, kebun agung dapat dimaknai sebagai kebun jiwa kita. Maka pertanyaannya: maukah kita memanam turi-turi putih ke dalan bumi agung jiwa kita? Maukah kembang kesucian kita tanam dalam bumi jembar hati nurani kita?
Hai nafsu mutmainah, jiwa yang tenang masuklah ....dst
                Seleret tiba nyempung. Seleret menggambarkan sebuah proses dalam keanekaragaman, dalam pelangi warna. Semua diri kita berproses dalam warna yang berbeda-beda. Dalam proses pengalaman, pembelajaran, dan pendewasaan yang berlainan, dengan agama dan keyakinan berbeda, merah, kuning, hijau, nila, ungu. Namun apapun warnanya maka cemplungkanlah kedalam jiwa yang jernih. Maukah bulu, kuku, tulang, tubuh kita kita nyemplung ke dalam nurani? Maukah turi-turi putih kita benamkan ke bumi jembar jiwa kita?
                Manakala kita berani memasuki kedirian kita, maka kita menjadi gampang tafakur, mau merenung. Maka kita tergerak untuk selalu introspeksi: Siapa sesungguhnya diri kita? Itulah yang disebut dalam ending tembang itu sebagai ungkapan pertanyaan “mbok iro kembange opo?”
                Tanyakan pada diri kita setiap waktu. Kembang apakah sejatinya aku? Kembang mawar yang harum baunya, ataukah kembang gaceng yang busuk atau kembang kamboja beraroma kematian? Kitalah yang menentukan mau menjadi kembang jenis apa? Ini bukan soal nasib tetapi lebih merupakan pilihan.
                Tembang Turi-turi Putih berhenti sampai di sini, sampai pada pertanyaan mbok iro kembange opo. Kalau dinyanyikan lagi bakal kembali ke bait awal berputar bagai siklus roda pedati. Mirip lagu dolanan berkarakter rap: Joko Penthil Thela-thelo ayo lo... lopis mambu ayo mbu.....mbukak tenong... ayo nong.... dan seterusnya.
                Tetapi masyarakat lazimnya suka menambahkan barang satu atau beberapa bait lagi dari tembang Turi-turi Putih. Sah saja. Mari kita coba menambah dua bait yang lazim digunakan:
                Kembang-kembang nongko
                Kembang nongko arum gandane
                Yen kepingin gak tumbal nyowo
                Ora tinggal katresnane
                Kembang-kembang kacang
                Yen disawang apik rupane
                Yen kepingin uripmu padang
                Ojo adoh karo asale
                Tetapi tembang bukan pasal undang-undang yang monotafsir. Tembang, seperti juga karya puisi dan karya seni lainnya, memuat sejuta tafsir. Jadi, monggo kalau sampeyan punya tafsir sendiri terhadap Turi-turi Putih.